Kalimat langsung adalah kalimat yang memuat petikan langsung, yaitu ucapan atau tulisan orang lain yang dikutip persis seperti aslinya dan diapit tanda petik, misalnya Ibu berpesan, "Berhati-hatilah, Nak!" Kaidahnya diatur dalam EYD V: huruf pertama petikan ditulis kapital, dan tanda koma memisahkan petikan dari bagian lain kalimat. Panduan ini membahas ciri, tiga pola susunan, contoh per jenis, cara mengubahnya menjadi kalimat tidak langsung, dan kesalahan yang paling sering muncul.
Apa itu kalimat langsung
Istilah kalimat langsung berangkat dari kata petikan langsung. EYD V, pedoman ejaan resmi yang diterbitkan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, menyebut tanda petik digunakan untuk mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan, naskah, atau bahan tertulis lain. Jadi kalimat langsung adalah kalimat yang memindahkan ucapan atau tulisan seseorang secara utuh, kata per kata, ke dalam tulisan kita.
Contoh di halaman itu menunjukkan bahwa sumber petikan tidak harus percakapan sehari-hari. Seruan dalam pidato, perintah atasan, sampai kutipan pasal undang-undang semuanya ditulis sebagai petikan langsung. Yang membuatnya "langsung" adalah kesetiaan pada kata aslinya: penulis tidak mengubah susunan, kata ganti, atau gaya bicara orang yang dikutip.
Kebalikannya adalah kalimat tidak langsung. Di sini penulis menceritakan ulang isi ucapan dengan kata-katanya sendiri, tanpa tanda petik. Kalau kalimat langsung terasa seperti rekaman, kalimat tidak langsung terasa seperti laporan. Keduanya benar, tinggal dipilih sesuai kebutuhan tulisan.
Ciri-ciri kalimat langsung
Kalimat langsung mudah dikenali dari tanda bacanya. Empat ciri berikut hampir selalu muncul bersamaan, dan tiap ciri punya dasar di EYD V.
- Ada tanda petik ganda yang mengapit ucapan. Ini ciri paling jelas, sesuai butir pertama aturan tanda petik di EYD V.
- Huruf pertama petikan ditulis kapital. EYD V bagian huruf kapital butir 6 menyatakan huruf kapital digunakan pada awal kalimat dalam petikan langsung.
- Ada bagian pengiring. Pengiring menjelaskan siapa yang berbicara dan bagaimana caranya, misalnya kata Rino, tanya Pak Lurah, atau seru wisatawan itu.
- Tanda koma memisahkan petikan dari pengiring. Pengecualiannya, koma tidak dipakai kalau petikan diakhiri tanda tanya atau tanda seru.
Contoh ketiga di tangkapan layar itu sering terlewat. Pada kalimat "Besok pagi," kata Rino, "mereka akan berangkat." kata mereka tidak ditulis kapital karena masih melanjutkan kalimat yang sama. Petikan itu hanya dipotong oleh pengiring di tengahnya. Aturan umum soal huruf kapital lainnya kami bahas di panduan huruf kapital.
Tiga pola susunan kalimat langsung
Letak petikan dan pengiring bisa ditukar. Dari contoh-contoh di EYD V, ada tiga pola yang paling sering dipakai, dan masing-masing punya letak tanda koma yang berbeda.
| Pola | Susunan | Letak koma | Contoh (EYD V) |
|---|---|---|---|
| Petikan di belakang | Pengiring, lalu petikan | Sesudah pengiring, di luar tanda petik | Kata nenek saya, "Kita harus berbagi dalam hidup ini." |
| Petikan di depan | Petikan, lalu pengiring | Di akhir petikan, di dalam tanda petik | "Mereka berhasil meraih medali emas," katanya. |
| Petikan terbelah | Petikan, pengiring, lanjutan petikan | Di dalam petik pertama dan sesudah pengiring | "Kita harus berbagi dalam hidup ini," kata nenek saya, "karena manusia adalah makhluk sosial." |
| Petikan tanya atau seru di depan | Petikan, lalu pengiring | Tanpa koma, cukup tanda tanya atau seru | "Di mana Saudara tinggal?" tanya Pak Lurah. |
Perhatikan juga huruf awal pengiring. Pada pola petikan di depan, pengiring ditulis huruf kecil (katanya, tanya Pak Lurah) karena masih satu kalimat dengan petikan. Kesalahan menulis "Katanya" dengan kapital di posisi ini cukup sering muncul di tulisan siswa maupun berita daring.
Tanda baca pada kalimat langsung menurut EYD V
Aturan koma pada kalimat langsung tercantum di bagian tanda koma EYD V, butir 7 dan 8. Butir 7 menyebut tanda koma digunakan untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat. Butir 8 memberi pengecualian: koma tidak digunakan untuk memisahkan petikan langsung yang diakhiri tanda tanya atau tanda seru dari bagian kalimat yang mengikutinya.
Jadi tanda baca penutup petikan selalu berada di dalam tanda petik. Tanda tanya dan tanda seru milik petikan, bukan milik kalimat pengiring. Itu sebabnya "Masuk ke dalam kelas sekarang!" perintahnya. tidak memakai koma lagi sesudah tanda seru.
Bagaimana kalau ada kutipan di dalam kutipan? EYD V mengaturnya dengan tanda petik tunggal. Contoh resminya: Tanya dia, "Kaudengar bunyi 'kring-kring' tadi?" Bunyi yang dikutip di dalam ucapan orang itu diapit tanda petik tunggal supaya pembaca tidak bingung di mana petikan utama berakhir.
Ringkasan seluruh tanda baca, dari titik sampai tanda kurung, ada di panduan tanda baca bahasa Indonesia. Kalau kamu ingin tahu latar belakang pedoman ejaan yang dipakai sekarang, baca juga artikel ejaan yang disempurnakan.
Contoh kalimat langsung per jenis
Isi petikan bisa berupa berita, pertanyaan, atau perintah. Jenis isi ini penting karena menentukan tanda akhir petikan dan kata penghubung saat kalimat diubah menjadi tidak langsung. Contoh bertanda (EYD V) dikutip dari halaman EYD V; sisanya contoh buatan kami yang mengikuti pola yang sama.
| Jenis petikan | Tanda akhir petikan | Contoh |
|---|---|---|
| Berita | Titik atau koma | "Mereka berhasil meraih medali emas," katanya. (EYD V) |
| Berita | Titik | Dina berkata, "Laporan rapatnya sudah saya kirim." |
| Tanya | Tanda tanya | "Di mana Saudara tinggal?" tanya Pak Lurah. (EYD V) |
| Tanya | Tanda tanya | Budi bertanya, "Apakah rapatnya jadi besok?" |
| Perintah | Tanda seru | "Masuk ke dalam kelas sekarang!" perintahnya. (EYD V) |
| Perintah halus | Tanda seru atau titik | Ibu berpesan, "Berhati-hatilah, Nak!" (EYD V) |
| Seruan | Tanda seru | "Wow, indahnya pantai ini!" seru wisatawan itu. (EYD V) |
Dalam tulisan nonfiksi, kalimat langsung paling sering muncul di berita, notulen, dan laporan wawancara. Saat mengutip narasumber, pastikan kata-katanya memang persis seperti yang diucapkan. Kalau kamu meringkas atau mengubah susunannya, pakai kalimat tidak langsung. Cara menyusun kutipan dari rekaman wawancara kami bahas di panduan transkrip wawancara, dan untuk rapat di panduan cara membuat notulen rapat.
Cara mengubah kalimat langsung menjadi tidak langsung
Mengubah kalimat langsung menjadi tidak langsung pada dasarnya mengubah sudut pandang: dari mengutip menjadi melaporkan. Ada lima unsur yang berubah, seperti dirangkum diagram berikut.
Langkahnya bisa diikuti berurutan:
- Tentukan jenis petikannya. Berita, pertanyaan, atau perintah.
- Hapus tanda petik dan koma pemisah. Petikan kini menyatu dengan kalimat pengiring.
- Pilih kata penghubung. Bahwa untuk berita, agar atau supaya untuk perintah, apakah untuk pertanyaan ya atau tidak. Pertanyaan dengan kata tanya (di mana, kapan, mengapa) cukup mempertahankan kata tanyanya.
- Sesuaikan kata ganti orang. Saya menjadi dia atau ia, kami menjadi mereka, kamu menjadi nama atau kata ganti orang yang diajak bicara.
- Ubah huruf kapital awal kutipan menjadi kecil, lalu akhiri dengan titik.
| Kalimat langsung | Kalimat tidak langsung | Yang berubah |
|---|---|---|
| Dina berkata, "Laporan rapatnya sudah saya kirim." | Dina berkata bahwa laporan rapatnya sudah dia kirim. | Tambah bahwa, saya menjadi dia |
| Budi bertanya, "Apakah rapatnya jadi besok?" | Budi bertanya apakah rapatnya jadi besok. | Tanda tanya menjadi titik |
| "Di mana Saudara tinggal?" tanya Pak Lurah. | Pak Lurah menanyakan di mana saya tinggal. | Kata tanya dipertahankan, Saudara disesuaikan |
| Ibu berpesan, "Berhati-hatilah, Nak!" | Ibu berpesan agar saya berhati-hati. | Tambah agar, sapaan Nak dihapus |
Keterangan waktu dan tempat kadang juga perlu disesuaikan. Kalau seseorang berkata "besok" seminggu yang lalu, laporan hari ini mungkin lebih jelas memakai tanggalnya. Prinsipnya sama dengan menulis kalimat efektif: pembaca harus langsung paham siapa melakukan apa dan kapan.
Kapan memakai kalimat langsung dan kapan tidak langsung
Kedua bentuk sama-sama benar, jadi pilihannya bergantung pada tujuan tulisan. Pertimbangan berikut bisa membantu saat kamu ragu.
- Pakai kalimat langsung kalau kata-kata aslinya penting: pernyataan resmi narasumber, janji, kutipan pasal, atau ucapan yang khas dan ingin dipertahankan nuansanya. Kalimat langsung juga membuat dialog cerita terasa hidup.
- Pakai kalimat tidak langsung kalau yang penting isinya, bukan susunan katanya. Misalnya saat meringkas diskusi panjang, menggabungkan pendapat beberapa orang, atau menulis notulen yang padat.
- Jangan berlebihan. Tulisan yang penuh kutipan panjang terasa seperti salinan rekaman. Biasanya cukup satu atau dua petikan kunci, sisanya diceritakan ulang.
- Jaga ketepatan. Petikan langsung adalah klaim bahwa seseorang mengucapkan kata-kata persis itu. Kalau kamu tidak punya rekaman atau catatan yang pasti, lebih aman memakai kalimat tidak langsung.
Dalam karya ilmiah, kutipan langsung dari buku atau artikel juga diapit tanda petik dan diikuti sumbernya, sesuai butir pertama aturan tanda petik yang menyebut bahan tertulis. Gaya penulisan sumbernya mengikuti pedoman kampus atau jurnal masing-masing, jadi cek pedoman itu sebelum menyerahkan naskah.
Kesalahan umum saat menulis kalimat langsung
Sebagian besar kesalahan kalimat langsung terjadi pada tanda baca, bukan pada isi. Berikut yang paling sering kami temukan saat menyunting naskah.
- Titik atau koma diletakkan di luar tanda petik. Salah: "Saya setuju", katanya. Benar: "Saya setuju," katanya.
- Koma ditambahkan sesudah tanda tanya atau seru. Salah: "Kapan pulang?", tanya Ayah. Benar: "Kapan pulang?" tanya Ayah.
- Huruf awal petikan tidak kapital. Salah: Ibu berkata, "jangan lupa makan." Benar: Ibu berkata, "Jangan lupa makan."
- Lanjutan petikan terbelah ditulis kapital. Salah: "Besok pagi," kata Rino, "Mereka akan berangkat." Benar: kata mereka ditulis kecil.
- Mencampur langsung dan tidak langsung. Salah: Dina berkata bahwa "Saya sudah mengirim laporannya." Pilih salah satu bentuk.
- Memakai tanda petik untuk kutipan yang sudah diringkas. Kalau kata-katanya sudah kamu ubah, itu bukan petikan langsung lagi.
Kesalahan pilihan kata di dalam petikan sebaiknya dibiarkan kalau memang begitu ucapan aslinya, terutama dalam berita dan transkrip. Di luar petikan, tetap gunakan bentuk baku. Daftar bentuk yang sering tertukar ada di panduan kata baku dan tidak baku.
Menulis kalimat langsung dengan dikte suara
Banyak kalimat langsung lahir dari ucapan: kutipan narasumber, dialog cerita, atau pesan atasan yang perlu dicatat. Wajar kalau kamu ingin langsung mendiktekannya. Isi ucapannya bisa didikte dengan lancar, tetapi tanda petik dan letak koma biasanya tetap perlu dicek.
Halaman bantuan Mengetik dan mengedit dengan suara di Google Dokumen menyediakan bagian khusus menambahkan tanda baca, tetapi juga mengingatkan bahwa tanda baca tidak tersedia untuk setiap bahasa. Kami membahas batasan itu lebih rinci di panduan Google Docs voice typing. Untuk perangkat lain, lihat cara mengetik dengan suara di laptop dan pengantar umum voice typing.
Alur yang praktis: diktekan isi kutipannya lebih dulu, lalu tambahkan atau periksa tanda petik, koma, dan huruf kapital memakai tabel di atas. Artikulasi membantu di tahap pertama, menuangkan ucapan Bahasa Indonesia menjadi teks bertanda baca di aplikasi Windows yang sedang kamu pakai. Pemeriksaan kaidah kalimat langsung tetap tugas penulis. Cara kerjanya ada di halaman cara kerja dan kemampuannya di halaman fitur. Kalau ucapanmu bercampur istilah Inggris, baca juga soal code-switching.
Kesimpulan
Kalimat langsung mengutip ucapan atau tulisan orang lain persis seperti aslinya. Ciri utamanya tanda petik, huruf kapital di awal petikan, pengiring yang menjelaskan siapa berbicara, dan tanda koma pemisah yang hilang bila petikan berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru. Ketiga pola susunan, yaitu petikan di belakang, di depan, dan terbelah, memakai aturan yang sama.
Saat isi ucapan tidak perlu dikutip persis, ubah menjadi kalimat tidak langsung: hapus tanda petik, tambahkan bahwa, agar, atau apakah, sesuaikan kata ganti, dan akhiri dengan titik. Simpan tabel di artikel ini sebagai contekan, dan rujuk langsung halaman EYD V kalau ragu.
Sumber
- EYD V, Tanda Petik, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (diakses 1 November 2026)
- EYD V, Tanda Petik Tunggal, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (diakses 1 November 2026)
- EYD V, Huruf Kapital, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (diakses 1 November 2026)
- EYD V, Tanda Koma, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (diakses 1 November 2026)
- Mengetik dan mengedit dengan suara Anda, Bantuan Editor Google Dokumen (diakses 1 November 2026)


